Who am I to Judge

“Kamu gemukan ya, Ras”, seorang teman berkata pada saya pada suatu hari.

Satu atau dua minggu sebelumnya seorang teman lain menyatakan hal yang sama, “Kamu jadi tambah guemuk banget ya”.

Dulu, kalau mendengar hal-hal semacam itu saya pasti akan langsung pasang target : diet, olahraga, apapun untuk bisa menjadi lebih kurus.

Tapi tahun ini berbeda. Beberapa teman lama yang saya temui berkata, “Lo kok nggak berubah sih Ras sejak SMA tetep aja badan lo segitu, lihat nih perut gue, bulat” atau yang paling simple, “Lo kok kurusan sih?”.

Anehnya lagi perkataan itu terlontar pada minggu yang sama dengan pernyataan tentang betapa gemuknya saya.

Saya pulang ke rumah, bercermin. Menatap tubuh saya. Lalu saya ingin tertawa.

Betapa naifnya saya.

Lalu saya berpikir.

Saya pernah mengatakan hal yang sama *yang saya ingat* terhadap beberapa teman saya.

Dua yang paling saya ingat adalah teman pacar saya dan suami sahabat saya sendiri.
Saat berpikir itulah saya menemukan betapa saya bodoh, tidak berpikir ketika mengatakan hal itu.

Saya ingat sekali pada teman pacar saya, saya berkata, “Lo kok makin gendut?” dan itu saya lakukan hampir setiap bertemu dia.

Saya ingat sekali pada suami sahabat saya, saya berkata, “Perasaan lo nikah baru seminggu, kok langsung tambun sih?”.

Oh saya ingat satu lagi, saya berkata, “Kok lo tetep gemuk sih?”, padahal dia sedang melakukan program pengaturan pola makan.

Atau bahkan pada beberapa teman saya yang lain.

Betapa saya tidak berperasaan.

Kenapa?

Saya mengatakan sesuatu yang jujur, tapi kenapa saya merasa bersalah.
Ada yang pernah berkata, kejujuran yang pahit jauh lebih baik daripada kebohongan yang manis.
Tapi kenapa setelah merenung, saya tetap merasa bersalah?

Saya masih menatap mata saya yang sipit dalam pantulan cermin, saat satu suara dalam diri saya berkata,

 

 

“Apa penilaian lo tentang fisik seseorang itu perlu lo nyatakan dengan cara itu?”

Lucu bahwa saya tidak pernah menyatakan bahwa seseorang berambut keriting (Dasar keriting!), bermata sipit (Hey, sipit!) *yang ini karena saya juga sipit*, atau berkaki besar (Kaki lo gede bangeeettt!), tapi saya sesekali berkata bahwa seseorang menjadi gemuk atau tetap gemuk (Kurus tidak termasuk karena biasanya orang senang dibilang kurus, hahaha).

Bukankah saya melanggar prinsip saya sendiri tentang “Who am I to judge” dan prinsip pengendalian diri?

Saya hanya bisa menyesal, lalu berdiri dan pergi dari hadapan cermin, membuka laptop dan membuat tulisan ini untuk kemudian meminta maaf pada orang-orang yang pernah saya sakiti hatinya dengan menyatakan sesuatu yang terdengar negatif jika saya bertemu lagi dengan mereka.

Dan saya menorehkan satu janji lagi dalam hati saya.

P.S.
Tidak semua orang punya pandangan yang sama tentang penampilan fisik kita.
Tapi ungkapan tentang menjadi diri sendiri itu benar adanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s