Getting Married is…

29 Mei 2013 Altamis Matahari Nawira was born. Welcome to the world!!

Saking excitednya sejak semalam, saya browsing-browsing hadiah apa yang bakal saya bawakan buat Alta pas datang menengok siang nanti. Teringat dulu waktu nengok Sky *anaknya Ilona* cuma bisa ngebeliin botol buat nakar susu bubuk buat kalau harus bikin susu di jalan *Sky yang ganteng, kapan-kapan kubelikan kado yang lebih bagus yaa*
Saya anti pacifier. Mungkin karena saya sendiri nggak pernah merasakan dot dari lahir, begitu juga adik saya. Ibu saya menghindari dot juga.
Terima kasih mama, gigi saya dan adik jadi rapi. Hehehehe.

Well, tahun ini banyak peristiwa penting yang terjadi. Pernikahan dan kelahiran adalah salah duanya.

Empat bulan lagi, sahabat saya sekaligus partner in crime dalam dunia perinterioran, akan menikah. Memang sih dia yang punya hajat, tapi saya juga merasa excited.

Bukan karena saya pengen buru-buru menikah juga, tapi lebih karena seru saja ikut merasakan repotnya menyiapkan pernikahan.
Iya sih, saya tidak terlibat banyak dalam hajatan ini, cuma panitia. Kapan lagi saya bisa jadi panitia pernikahan?! Hehehehe.
Saudara kandung saya cuma satu, itu pun beda 6 tahun di bawah saya. Masa iya sebelum saya menikah, dia bakal menikah duluan. Rasanya hampir tidak mungkin karena Ibu Bapak saya pasti menentang.Sepupu-sepupu dekat saya juga tampaknya belum akan menikah. Jadi anggaplah menjadi panitia unyu di pernikahan sahabat saya ini semacam pembekalan juga buat saya.

Pasti habis membaca tulisan ini, ada beberapa orang yang *lagi-lagi* bertanya, “Kapan kamu menikah, Ras?”

Saya tidak pernah merasa takut dengan pertanyaan ini, malah cenderung biasa saja. Karena menikah bukan target, bukan sesuatu yang mudah dilakukan.
Bukan dalam artian materi yang menghalangi *yah itu salah satu faktor tapi saya dan pacar, Inshaallah, bisa mengatasi, dan itu bukan halangan*, tetapi lebih kepada memantapkan komitmen.

Banyak hal yang akan dikorbankan ketika menikah sudah menjadi fokus. Dan hal-hal berkaitan target serta passion hidup saya juga akan kandas kalau saya memikirkan pernikahan sekarang. Saya masih mau membesarkan Interior Design Studio yang sedang saya dan sahabat saya rintis, masih mau menyelesaikan Tesis tahun ini, masih mau mengambil doktor *Inshaallah* tahun 2015, masih mau merintis lagi bisnis fashion dengan sahabat baik saya, dan yang jelas saya masih mau menjadi berguna buat orang lain dulu. Lagipula Ibu dan Bapak saya juga menikah pada usia 28 tahun. Jadi rasanya sudah tertanam dalam diri saya untuk tidak menikah di bawah usia 25 tahun.

Sudah cukup asam garam kehidupan teman-teman saya mengajarkan kepada saya. Bagaimana banyak hal tidak bisa dikerjakan oleh seorang wanita setelah menikah.

Belum lagi mempunyai anak. Saya tidak anti anak kecil. Saya malah cenderung suka mengasuh, suka mendengarkan cerita-cerita dari mulut seorang anak kecil, suka dengan tingkah mereka saat mereka gembira. Tapi ada satu dialog kecil, saya lupa siapa partner bicara saya waktu itu, yang membuat saya berpikir seribu kali.

Suatu hari saya sedang melihat-lihat foto bayi dan balita :

Saya : Anaknya lucu bangeeeettttt!!! Pipinya itu looohhh, senyumnyaaaaa… *gitu deh kira-kira*

Seseorang : Dia kelihatan lucu soalnya kamu belum hidup sama dia, Ras.

Seseorang itu tidak bercanda. Dia benar. Dan bukannya saya jadi takut untuk punya anak. Siapa sih yang tidak mau punya miniatur dari dirinya sendiri.

Saya sudah beberapa kali terlibat dalam kegiatan yang berbau mengasuh anak kecil. Hell yes, awalnya mereka memang manis. Tapi cukup satu minggu menghabiskan hampir 3/4 hari per harinya bersama mereka, bahkan sampai menginap juga, saya sudah kenyang. Saya tipikal orang yang belajar dari pengalaman dan bukan dari omongan semata. Kalau saya cuma mendengar seseorang pada dialog di atas mencetuskan kalimatnya saja mungkin saya tidak akan menganggap serius kata-katanya itu. Setelah mengalami sendiri apa yang dinamakan hidup dengan anak kecil, saya merasa saya belum sanggup. Lagi-lagi bukan soal materi. Tapi lebih kepada, ketika saya memiliki anak kelak, sikapnya, sifatnya, nilai yang dia anut adalah tanggung jawab saya dan pasangan. Jadi anak kami kami kelak adalah bentukan dari tangan kami.

Sungguh saya belum sanggup. Itu masih terlalu berat. Belum lagi pacar saya sempat trauma karena beberapa bulan yang lalu dia juga terlibat kegiatan serupa yang saya ikuti yang menuntut untuk mengasuh anak kecil, anak-anak yang dia asuh kebetulan sangat istimewa. Penggambaran yang pacar saya utarakan adalah “Anak-anaknya super nuakaaaalllll!” Saya cuma bisa tertawa, ternyata kami memang belum sanggup.

Teman-teman saya banyak yang bilang, “Yaahh, punya anak bisa diatur Ras, bisa ditunda, jadi setelah menikah nggak perlu langsung punya anak.”

Saya mengenal diri saya dengan cukup baik. Saya tidak lepas dari kemalasan. Dan kemalasan itu pun sering berubah menjadi kecerobohan. Jadi tidak ada yang bisa menjamin setelah menikah saya tidak akan langsung punya anak atau malah langsung. Kenapa? Ya karena untuk menunda punya anak setelah menikah itu butuh ketelatenan, harus mengikuti saran dokter dan lain-lain.

Tulisan ini adalah buah pikir saya. Tidak akan saya jadikan prejudice bahwa menikah muda itu tidak baik. Menikah itu adalah pilihan. Bukan sesuatu yang prinsipnya bisa dipaksakan.

*saya membayangkan, kelak ketika undangan pernikahan saya tersebar, teman-teman saya akan berkata, “Akhirnyaaaaa…” hahahaha*

image

Sumber : dok. Pribadi

*anak di foto ini adalah anak senior saya di kampus, namanya Nada. Lucu yaaaa, tapi pembaca belum menghabiskan satu hari berada di dekat dia hahahaha*

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s