Gusar.

Soekarno hatta jam segini macet. Nggak biasanya. Ini kan hari rabu. Ternyata ada polisi bertugas pakai egrang! *serius!

Saya lagi gusar. Di satu sisi memikirkan tesis yang masih berupa data mentah, belum dipilih pilah, belum diklasifikasikan, apalagi diolah. Huft. Rasanya mau ketemu pembimbing aja minta semua diselesaikan bulan ini. *ngarep

Di sisi lain saya memikirkan banyak hal yang fisiknya sih tidak ada hubungannya dengan saya. Tapi tetap saja mengganggu sekali. Jadilah saya gusar memikirkan hal-hal yang tidak penting.

Perhatian: tulisan ini untuk usia 18tahun ke atas.

Gusar satu. Kemarin saya pergi kencan ke j.co. Di sana dipisahkan antara area merokok dan tidak merokok. Karena saya dan pacar tidak (sedang) merokok, kami pilih untuk duduk di kursi pojokan non-smoking area yang letaknya di dalam dekat kaca pembatas dengan smoking area. Saat mulai duduk itulah kegusaran saya (dan pacar) muncul. Di balik pembatas kaca yang transparan itu, tepat di sebelah kami, duduk sepasang muda-mudi yang jika dilihat penampilannya, usianya tidak lebih tua dari saya. Paling tua usia 20. Mereka duduk bersebelahan, dengan kaki si mudi diletakkan di atas paha si muda yang dengan santai membelai2 kaki ramping itu. Sirik? Tidak. Saya dan pacar juga bisa. Tapi saya tidak mau.  Pacar saya juga tidak mau. Kami tidak menjauh demi melihat adegan muda-mudi itu. Mereka juga tampaknya tidak sadar sedang kami bicarakan. Adegan pun berlanjut, sampai ke sandaran dan pelukan  serta mungkin ciuman *saya tidak melihat dengan jelas karena sedang mengobrol sama pacar* yang saya nilai bukan rasa sayang dan hormat. Sampai pada puncaknya berupa pangkuan dan mungkin ciuman lagi. Pfftt.
Dan pacar saya bertanya,”Bisa kamu bayangkan mereka sudah ngelakuin apa aja?”
Saya cuma bisa merinding tapi tertawa.
Dan saya bertanya pada pacar saya,”Kalau kita lagi jalan di tempat umum, orang menilai kita sebagai pasangan seperti apa ya?”
Dan dia tersenyum.
Gusar satu yang memberi pelajaran bagi kami berdua. Dan saya tiba-tiba mengkhawatirkan adik saya, yang usianya mungkin sama dengan si mudi tadi.

Gusar dua. Saya belum bisa memutuskan definisi sukses bagi saya. Tidak dipungkiri setiap kali mengucapkan selamat ulang tahun, banyak yang mengiminginya dengan ucapan semoga sukses. Rasa-rasanya setiap kali berbicara tentang sukses di banyak kelompok yang saya ikuti, saya hanya mendapat gambaran tentang perusahaan yang besar, cabang perusahaan dimana-mana, kuliah di luar negeri, bekerja di luar negeri, sampai ke resepsi pernikahan yang megah. Sungguh, saya bosan mendengar cerita kesuksesan versi itu. Saya tidak melihat manfaatnya bagi orang-orang yang tidak punya kepentingan dengan yang bersangkutan. Dan herannya, banyak orang menceritakan kesuksesan orang lain dalam versi itu *yang dia pikir ada hubungan entah kerabat atau cuma satu almamater* dengan bangga yang berlebihan, yang dalam artian menjelek-jelekkan yang di luar itu. Misalnya saja memuji seseorang yang bekerja di luar negeri dan mengatakan bahwa di negeri ini seseorang itu tidak akan sesukses sekarang. Disini saya tidak ingin menyebar prejudice bahwa sukses yang seperti itu buruk, tapi saya ingin mempersuasi yang membaca tulisan ini untuk memberikan penghargaan sekecil apapun pekerjaan baik yang dilakukan orang lain. Menjaga kata-kata dalam menyampaikan pujian.

Berat ya kegusaran saya, sampai saya sakit kepala padahal harus menilai tugas mahasiswa. Hahaha.

Yah, semoga saja bisa bermanfaat, coret-coret saya di blog ini.

-memandang ruang rapat yang kosong-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s