Katanya Suka Gratisan, Ditawarin Kok Ragu?

Pagi-pagi habis nyapu, sebelum siap-siap ke undangan anak temen papa, sambil lalu ngeliat itu sodara tetangga ngelamun di teras rumah seperti pagi-pagi sebelum ini, terpikirkan satu pertanyaan yang spontan tadi mampir mengetuk-ngetuk batok kepala.

“Masih bersediakah orang lain jadi dosen asisten kalau saya bilang dosen asisten di institusi ini tidak dibayar?”

Sudah cuma asisten akademik yang menjadikan kartu id warna putih, tidak dibayar pula. Tapi tulisan saya ini bukan mau mengeluh tentang itu. Memori ini kembali pada kali pertama *yang sebenarnya adalah kali kedua* saya menyerahkan surat lamaran untuk jadi dosen asisten di sana. Sempat pesimis karena kali pertama kesana saya cuma dikasih satu  kalimat jawab yang bilang intinya tidak ada lowongan. Baiklah.

Tapi si teman kecil saya *di sela nulis ini terdengar suara papa lagi ketawa ketiwi sendiri baca buku* tetiba mengajak melamar ke sana yang bagi saya adalah kedua kalinya. Ternyata dia sudah masukin portofolio atau semacamnya jauh sebelum ngajak saya, tapi nggak apa-apa, saya bilang “Yowis, nggak ada salahnya coba lagi”. Sambil sebelumnya mengajak satu teman dekat saya lagi untuk ikut tapi dia tidak mahu.

Berkali-kali hari itu saya dicekokin kata-kata, “Anda tahu jadi asisten disini tidak dibayar?”. Saya tahu, tahu banget. Herannya saya tetep mau. Tapi ditelisik kehidupan saya sebelumnya boleh jadi bisa menjawab keheranan itu. Pekerjaan ini tidak seperti bekerja untuk mendapatkan gaji yang kemudian setelah dipakai makan habis terbuang. Bukan. Ini semacam menjadi sukarelawan. Ini pendidikan. Ini pekerjaan sosial. Dan mama papa selalu bilang, pekerjaan sosial memang tidak ada bayaran uangnya.

Yang akan saya bilang setelah ini bahwa saya punya prinsip, “Kalau mau cari uang bukan ini tempatnya”. Haruskah saya bilang karenanya saya mencari proyekan untuk uang saku? Tapi bertahan disini saya ingin menjadi bagian dari proses kehidupan adik-adik yang saya yakin masa depannya gemilang.

Jadi sampai kapan mau tetap disini, Ras? Sampai proses belajar untuk saya dihentikan oleh pemegang kematian, Tuhan.

 

-ditemani pengering rambut-

Advertisements

One thought on “Katanya Suka Gratisan, Ditawarin Kok Ragu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s