Who am I to Judge

“Kamu gemukan ya, Ras”, seorang teman berkata pada saya pada suatu hari.

Satu atau dua minggu sebelumnya seorang teman lain menyatakan hal yang sama, “Kamu jadi tambah guemuk banget ya”.

Dulu, kalau mendengar hal-hal semacam itu saya pasti akan langsung pasang target : diet, olahraga, apapun untuk bisa menjadi lebih kurus.

Tapi tahun ini berbeda. Beberapa teman lama yang saya temui berkata, “Lo kok nggak berubah sih Ras sejak SMA tetep aja badan lo segitu, lihat nih perut gue, bulat” atau yang paling simple, “Lo kok kurusan sih?”.

Anehnya lagi perkataan itu terlontar pada minggu yang sama dengan pernyataan tentang betapa gemuknya saya.

Saya pulang ke rumah, bercermin. Menatap tubuh saya. Lalu saya ingin tertawa.

Betapa naifnya saya.

Lalu saya berpikir.

Saya pernah mengatakan hal yang sama *yang saya ingat* terhadap beberapa teman saya.

Dua yang paling saya ingat adalah teman pacar saya dan suami sahabat saya sendiri.
Saat berpikir itulah saya menemukan betapa saya bodoh, tidak berpikir ketika mengatakan hal itu.

Saya ingat sekali pada teman pacar saya, saya berkata, “Lo kok makin gendut?” dan itu saya lakukan hampir setiap bertemu dia.

Saya ingat sekali pada suami sahabat saya, saya berkata, “Perasaan lo nikah baru seminggu, kok langsung tambun sih?”.

Oh saya ingat satu lagi, saya berkata, “Kok lo tetep gemuk sih?”, padahal dia sedang melakukan program pengaturan pola makan.

Atau bahkan pada beberapa teman saya yang lain.

Betapa saya tidak berperasaan.

Kenapa?

Saya mengatakan sesuatu yang jujur, tapi kenapa saya merasa bersalah.
Ada yang pernah berkata, kejujuran yang pahit jauh lebih baik daripada kebohongan yang manis.
Tapi kenapa setelah merenung, saya tetap merasa bersalah?

Saya masih menatap mata saya yang sipit dalam pantulan cermin, saat satu suara dalam diri saya berkata,

 

 

“Apa penilaian lo tentang fisik seseorang itu perlu lo nyatakan dengan cara itu?”

Lucu bahwa saya tidak pernah menyatakan bahwa seseorang berambut keriting (Dasar keriting!), bermata sipit (Hey, sipit!) *yang ini karena saya juga sipit*, atau berkaki besar (Kaki lo gede bangeeettt!), tapi saya sesekali berkata bahwa seseorang menjadi gemuk atau tetap gemuk (Kurus tidak termasuk karena biasanya orang senang dibilang kurus, hahaha).

Bukankah saya melanggar prinsip saya sendiri tentang “Who am I to judge” dan prinsip pengendalian diri?

Saya hanya bisa menyesal, lalu berdiri dan pergi dari hadapan cermin, membuka laptop dan membuat tulisan ini untuk kemudian meminta maaf pada orang-orang yang pernah saya sakiti hatinya dengan menyatakan sesuatu yang terdengar negatif jika saya bertemu lagi dengan mereka.

Dan saya menorehkan satu janji lagi dalam hati saya.

P.S.
Tidak semua orang punya pandangan yang sama tentang penampilan fisik kita.
Tapi ungkapan tentang menjadi diri sendiri itu benar adanya.

It’s My Love at The First Sight Story

It’s about my love story.

Kalau boleh, saya bisa bilang pacar saya yang sekarang, Epo, adalah cinta pandangan pertama saya yang pertama.
Beda loh ya sama cinta pertama.

Yes. He is my first love at the first sight.

Nggak pandangan pertama banget sih. Karena baru sadar ada dia mungkin setelah pertemuan kedua.

Pertemuan pertama sih dia yang tau, katanya waktu itu saya senior yang ditugaskan menjadi instruktur capoeira *Unit kegiatan mahasiswa yang pernah saya ikuti* di kelompoknya dia.

Image

Saya pernah jadi Capoeirista :3

Yang saya ingat, pertemuan kedua saat terjadinya pandangan pertama itu, waktu kita main ke air terjun *lupa namanya* bareng temen-temen unit. Waktu itu dia lagi diobral, dia sendiri yang bilang, “Aku lagi free and cheap”, lagi gratis dan murahan. Murahan karena dia minta foto bareng terus sama cewek-cewek. Hahahaha.
Termasuk saya.

Image

Foto bersama Free and Cheap Guy
Sumber : Facebook Rizky Grahita

Waktu itu sebenernya dia begitu kelihatan kayak anak kecil, berisik, pecicilan. But I fell for him that day. And I think I’m crazy for having that feeling. Saya lalu berpikir besok-besok kalau ketemu dia lagi pasti itu cuma perasaan sementara.
Tapi ternyata….

Besok-besoknya kita ketemu *sering amat ketemu* tapi juga lupa dalam rangka apa. HPnya hilang katanya. Dan udah beli HP baru murah. Okey, langsung dapet nomor HPnya *agresif banget sih*.

Terus saya lupa deh urutannya.
Sering kita ketemu pagi-pagi gerimis, siang pas makan siang, sore pas hujan-hujan.

Mendekat kali pertama adalah waktu dia masih ikut unit musik. Pas dia mau tampil di aula barat ITB, sebelumnya dia nraktir saya pisang ijo. Hahahaha. Dan dia maksa, saya harus terima ditraktir. Dasar kau!

Satu kali pas latihan unit, ada junior saya yang lain bilang, “Yuk kita godain si Epo”. Seharian itu sementara Epo latihan buat pentas, si junior saya yang lain ini pura-pura bisik-bisik ke saya, deket-deket *inget kaya gitu saya pengen ketawa*. “Tuh dia pasti cemburu”, kata junior itu. Dan lucu juga ya, saya nggak pernah bilang kalau saya tertarik sama Epo, kenapa semua orang bisa tau sih? *misteri*

Image

Epo yang Tidur di Kamar Ramara
Sumber : Facebooknya siapa deh ya, lupa

Terus 14 Februari 2009.
Hari itu saya dan Epo kabur dari latihan *sambil pamit sama senior juga* aneh. Kami pergi ke BIP karena ada temen kostannya lagi pameran foto disana. Lucu deh, atmosfernya terasa aneh tapi saya suka. Dan pulangnya dia bilang mau bertemu sama kecengannya malam itu buat ngasih coklat *hell yeah*.

Iya, saat itu dia punya gebetan, saya juga. Gebetan dia satu unit sama kami. Gebetan saya? Anak Parkour jurusan Sipil. Hahahaha.

Perjalanan pulang malam Valentine’s day itu, jantung saya berdegup lebih keras, bawaannya ngelamun terus di samping jendela *serius*. Mikirin, pasti Epo udah nyatain nih sama cewek itu. Terima kasih Po, kamu sukses bikin tidur saya nggak nyenyak lagi.

Besoknya, kami bertemu, hati ini berusaha menyiapkan kalimat apa yang harus saya ucapkan? Selamat? Atau apa? Tapi Epo bilang, dia nggak jadi menyatakan cintanya sama kecengannya itu. Kenapa? Sampai sekarang saya sendiri nggak tau. Ohya, pas pulang
kemarin harinya itu dia juga kasih saya coklat, katanya waktu itu “Khusus dibeli buat kakak” :”)

Habis itu giliran saya yang mendekatkan diri pada si anak Sipil kecengan saya itu. Malam itu ada Ganesha Music Event. Saya janjian sama dia. Dan surprise, Epo juga tampil disitu. Hahahaha. Waktu itu saya ditemani Rani Kriwil, junior saya yang lucu dan baik hati.

Image

Bersama Rani Kriwil :3

Ternyata si anak Sipil nggak muncul sampai saat saya mau pulang. Tapi saya ingat betul, jalan bertiga, saya, Epo dan Rani menyusuri jalan gelap di kampus. Kali karena gelap, ada yang menggenggam tangan saya. Dan itu bukan Rani. Saya cuma bisa tertunduk, berdebar.

Sebelum tidur malam itu, si anak Sipil SMS *masih jaman loh itu SMS* bilang bahwa dia baru aja beres dari lab nya dan ngajak ketemu. It’s too late, my heart was stolen right in front of your eyes, Sipil!

Habis itu hari-hari menikmati gerimis pagi-pagi, hujan sore-sore saya dan Epo bisa menikmati lagi, berdua menyusuri jalan di kampus. FYI, jaman-jaman status palsu di FB masih booming tuh. Saya juga meminta Epo mengubah statusnya seolah kami sedang in relationship. Hahahaha.Dan pagi itu, kering dingin berkabut.

Image

Pagi Berkabut di ITB

Terjadilah percakapan ini :
Epo : Kak, aku mau bilang sesuatu *muka tegang*
Saya : Bilang aja *padahal deg-degan juga, merasa kalau dia bakal minta putus*
Epo : Aku mau bilang, kita putus aja yah
Saya : *tuhkaaannn* …
Epo : Aku mau putus aja dari status palsu kita, terus kita jadian beneran gitu…
Saya : *tersenyum lebaaarrrr, jalan dipercepat, ninggalin dia*

Setelah menemukan tempat duduk.
Saya : yakin kamu?
Epo : Ya nggak tau kak. Jadi gimana?
Saya : Aku jawab satu minggu lagi ya, pas pentas opera ganesha *berjalan ninggalin dia karena saya ada kelas*

Finalnya, hari dimana kita beres pentas Opera Ganesha untuk Dies Emas ITB, pas jalan pulang.

Image

Suasana Habis Pentas Opera Ganesha
Why did I wearing mask??

Epo : Jadi gimana?
Saya : Apanya?
Epo : Itu looohhh
Saya : Ooh. Coba kamu ulang lagi pertanyaannya *sumpah saya jahat banget!*
Epo : Iya mau nggak jadian beneran sama aku?
Saya : Hmm, yaudah kita jalani aja yah

Udah disuruh nunggu seminggu, dijawabnya nggak jelas pula.
Sebenernya kita jadian nggak sih?
Waduh…

Tapi kami berdua sudah tau sama tau bahwa kami saling menyayangi dan mencintai *sounds cheesy but I couldn’t find any words that fit it* hampir lima tahun. Dan apa yang sudah kami lalui, kami tau apapun yang terjadi rasanya kami tidak ingin berpisah *I’m sure you have no idea what we’ve been through*

Image

See Us There?
Hari Pertama Habis Pentas Opera Ganesha

Image

My Graduation. His smile is like :3

Image

His Graduation. April 2013.
We’re in Violet!

Image

Liburan di Ujung Genteng 😀

Image

Jalan kaki dari Braga sampai Buah Batu

Image

Ngangkot!

Image

Di sela dia ngerjain TA

Image

Di sela dia ngerjain proyek

Image

Braga Festival 2012

Image

ITB Open House

Image

Happy 4th Anniversary !

Image

Hikayat Negeri Air w/ Sahabat Kota

Image

TSM seminggu sebelum sidang tesis

Image

Ciwalk. Gantinya Photobox. Hihihi

 

Kayak kata sahabat baik saya, “It’s all about chemistry. Mungkin kita bisa menemukan yang lebih baik dari pasangan kita secara fisik dan materi lainnya, tapi cuma dia, orang yang bisa membuat kita menunjukkan sisi kita yang sebenarnya bahkan yang paling buruk”.

Image

Sahabat Saya si Founder LaCi
Sumber : Facebooknya Dira?

Dedicated for my boyfriend for almost this five years,

Epo Prasetya Kusumah.

Image

He held my hand while sleeping in Angkot
Sumber : Dok. Pribadi 2013

 

With love,

Mutiara Ayu Larasati
15 Desember 2013.

 

NB :

One day he sent me this pict

Image

Hahahaha..
Yes I do want this too
Sumber : 9gag

Setelah Satu Langkah (Judgement Day)

Akhirnya kembali menulis 🙂 *diingetin adik sudah dari Juni nggak nulis hyaaaaa*

Image

Adik. Bahkan Epo nggak Bisa Ngebedain dari Sudut Ini.
Sumber : Dok. Pribadi (2013)

Hampir 3 bulan penuh pertanyaan yang saya dengar cuma satu. Kapan sidang?

Awalnya habis denger pertanyaan itu, sebel juga sih. Tapi saya nggak suka melayani pemikiran yang negatif. Jadi saya pikir kalau ada yang tanya kayak begitu lagi, anggap saja mereka pengen wisuda bareng saya. Hahahahaha. *nyatanya enggak juga sih*

Sekarang judgement day sudah lewat satu minggu *saatnya mengerjakan revisi dan jurnal ilmiah*. Yeaaayyy!!

Sempat ditanya, “Gimana rasanya beres sidang, Ras?”

Hmm, rasanya? Kalau sewajarnya ya lega, lega akhirnya nggak dihantui lagi sama nulis dan bikin presentasian *trust me, it was really a hard time for me*. Yang paling pentiiiinggg, akhirnya saya bisa gogoleran nggak mikirin apa-apa tanpa merasa bersalah. Hurraaayyy!!

Image

Jadwal Sidang 29 November 2013
Sumber : Dok.Pribadi (2013)

 

Sidang tesis saya seminggu yang lalu, kenyataannya berjalan satu setengah jam, yang rasanya bagaikan hanya setengah jam. Harusnya saya lega karena bisa melaluinya dengan lancar. Harusnya. Tapi saya merasa ngambang *bagaikan daun di atas genangan air hujan gitu*, ngambang karena nggak merasa ‘dibantai’ *bukannya saya pengen juga dibantai, dosen-dosen saya kan baik hati 🙂 *, ngambang karena rasanya saya belum melakukan apa-apa.

Padahal, sebelum sidang, rasanya beraaaatttt banget. Selama mengerjakan tesis ini, saya sesekali mengalami:

1) Muak baca tulisan Bahasa Inggris sampai pengen muntah *seriously*. Bukan karena nggak bisa baca tulisan berbahasa Inggris itu tapi entah ya Bahasa Inggris yang dipakai kata-katanya terlalu diplomatis, terlalu manis, terlalu kental *kalau bisa digambarkan dengan kata-kata tersebut*. Hal-hal yang sungguh tidak saya sukai dalam hidup ini. *Hoeeekk*

2) Antara tangan, lidah dan otak nggak sinkron. Pernah nggak kalian ngalamin, mau ngomong sesuatu tapi otak udah berpikir jauuuuhhh ke depan sampai kata-kata yang dilontarkan sama lidah tuh belibet? Itu yang saya alami. Dan ternyata nggak cuma saya. Bu dosen yang kemarin baru menyelesaikan program doktornya juga bilang begitu. Apakah ini gara-gara kuliah? Sungguh misteri.

3) Otak berhenti sama sekali pas perlu ngetik dan baca jurnal. Blas! Berhenti. Mata boleh menelan kata-kata yang ada di layar atau kertas, otak kembali menangkisnya bagaikan sedang bermain tenis.

4) Saat tidur malam, mata tertutup, otak berpikir, bangun tidur bagaikan zombie dan hari menjadi semakin pendek. Masih perlu dijelasin?

Image

Coret-coret Malam Sebelum Sidang
Sumber : Dok.Pribadi (2013)

Been there, done that.

Jadi apa yang saya peroleh setelah sidang?

Sempat ada mahasiswa bertanya, “Kak, apa sih gunanya kita meneliti?”
Tertegun. Saat itu nggak bisa jawab dengan sederhana. Lupa juga apa yang saya ucapkan.

Tapi saya merasa lucu. Gelar memang belum tersemat. Apakah saya menjadi lebih pintar? Tidak, rasanya. Apakah saya menjadi lebih bersinar? Tidak. Apakah saya menjadi lebih baik dari orang lain? Definitely not. Bukankah itu semua yang biasanya diharapkan dari meraih pencapaian hidup yang lebih tinggi? Bagi saya tidak.

Mengerjakan tesis melatih saya menjadi lebih sabar. Mengajari saya bersikap saat menghadapi orang-orang yang hebat. Mengajak saya menikmati proses yang menyenangkan. Anehnya menjadi sedikit rindu dengan motivasi mengerjakan tesis *aaww*

Cukup. Melalui sidang saya punya tanggung jawab lain. Saya punya kewajiban yang harus ditunaikan. Dan tentu kebijaksanaan yang seharusnya lebih besar.

Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih untuk :

1. Tuhan. Yang sudah selalu bersedia memberikan saya kekuatan dan keyakinan selama proses ini.

2. Tentu saja Mama Papa yang selalu berdoa untuk anak-anaknya yang bandel dan minus kelakuannya. We love youuuu :-*

3. Dosbing I, Pak Andar *yang mirip aktor Korea*. Yang sudah sangat sabar dan selalu tersenyum kalau saya datang mendadak buat ngasih draft atau bimbingan.

4. Dosbing II, Pak Bagus *yang bakal ambil Program Doktor bareng saya, jadikah Pak?*. Yang sudah sangat baik sekali dan ramah kalau ketemu saya di koridor Prodi Interior *tempat saya ngasdos* sambil kadang ngetawain saya yang lagi stress. Hahahaha.

5. Bapak kaprodi, Pak Andri. Yang sudah rela meluangkan waktu untuk membredel tulisan saya dan dengan sabarnya membimbing saya untuk menjalani proses dengan sabar dan baik.

6. Bapak penguji, Pak Widi. Yang selalu menyebut saya sebagai orang Thailand, yang entah kenapa kalau beliau yang bilang begitu saya jadi senang. Hahahaha.

7. Dosen-dosen baik di Interior (Pak Pribadi, Pak Tendy, Bu Donna), di DKV (Mas Guntur), di Produk (Pak Martinus), bahkan sampai ke Teknik Geologi (Pak Nuki) yang sudah mewarnai hari-hari tesis ini dengan pembicaraan berbagai topik. Even just hello word from them is enough for making my day 🙂 *bahkan sampai yang secara nggak langsung saya merasa lagi disidang*

8. Temen-temen asdos. Have nothing to say more than you guys are like another family member to me *group hug*

9. Semua pegawai TU FSRD mulai dari Interior (Pak Narno & Bu Yanti) yang suka saya ajak curhat pagi-pagi dan suka ngasih cemilan plus Pak Ade yang setia bikinin saya teh manis panas dan nungguin kalau saya pulang sore, Produk (Pak Hanan & mas yang rajin banget pagi-pagi udah dateng) yang selalu kasih senyumnya tiap saya datang nyari Pak Andar, S2 (Bu Nani!) ibuuuuu ibu baik sekaliiii, yang nggak pernah bosen ngasih saya informasi even saya nanya berjuta-juta kali, bahkan ngeprintin syarat wisudaan padahal saya nggak mintaaa huhuhu..

10. Aci dan Inggit. Well, Kiss!

11. Epo!

Image

Epo Lagi Serius
Sumber : Dok. Pribadi (2013)

Image

Ditungguin Makhluk-makhluk ini Sehabis Sidang
Sumber : Dok. Pribadi (2013)

12. Arief, Nicko dan Fitrah. Cahaya kecilkuuuuu ^^

13. Temen-temenkuuuu. Angga, Ninda, Manda, Mumuh, Miya, Anti, Hanum, Ija, Tom, dkk. :3

Last but not least. My bestbestbestfriend forever. Nike Trisha Sarwoko. Yang sama-sama ngejalanin magister dalam waktu yang hampir sama pula. Congrats for you too. Muuach!

Have a good day, fellas!!

Mantan Kecengan

-Hujan deras di luar sana-

Bagaimana ya memulai cerita hari ini? Hmm… Lebih baik dimulai dari peringatan, cerita kali ini penuh kegalauan, bagi yang tidak suka kisah-kisah galau, jangan baca post kali ini.

Tadi saya mendapat whatsapp dari seorang wanita, sahabat baik saya yang sebentar lagi mau menikah. Dia bercerita bahwa semalam, mantan kecengannya semasa SMA mengajaknya mengobrol. Menurut cerita sahabat saya ini, pria itu secara terang-terangan merayunya. Tapi sahabat saya ini tidak membutuhkan nasihat, dia sanggup menjaga dirinya supaya tidak tergoda. Lagipula menurutnya, “Dia bikin ilfil, Ras!”

Sesungguhnya beberapa hari yang lalu, seorang mantan kecengan saya hadir di mimpi saya. Nggak perlu saya ceritakan detailnya. Bunga tidur kali itu sempat membuat saya gundah. Gundah bukan karena saya ingin memilikinya. Tapi lebih karena hampir selama tujuh tahun ini, dia selalu hadir dekat dengan kehidupan cinta saya.

Kisah mengeceng ini dimulai dari tahun pertama saya kuliah. Mengenalnya saya sungguh beruntung karena dia adalah laki-laki yang baik. Setiap pulang kuliah, dia hampir selalu mengajak bertemu. Karena dia tahu jemputan saya datang agak sore. Alasannya saat mengajak saya bertemu kebanyakan meminta ditemani belajar. Tidak sulit bagi saya, saya akui saya jatuh hati padanya.

Setiap hari sebelum pulang kami bertemu. Setiap kali saya perlu teman ke balubur untuk beli peralatan gambar, saya tinggal sms dia. Setiap kali memulai hari, semangat akan kami kirimkan lewat sms. Begitu pula setiap kali hari akan berakhir, ucapan selamat malam dan selamat tidur tidak akan lupa terkirim. Keseharian kami layaknya laporan keuangan yang setiap hari direkap. Mengingat masa itu saya masih suka tertawa geli. Kami masih sangat muda. Masih awam soal jatuh hati, khususnya saya.

Sampai suatu hari, ketika pulang dari balubur menuju kampus setelah menemani dia membeli tempat pensil, kami bertemu dengan seorang wanita, teman kuliah satu fakultas saya yang kebetulan adalah teman sekolah dia semasa SMA. Setelah bertegur sapa, teman saya, kita sebut saja dia Agni, pergi. Keesokannya, Agni bertanya ada hubungan apa saya dengan laki-laki teman dekat saya itu. Saya hanya menjawab, “Teman dekat”.
Seperti biasa ketika wanita menemukan kesamaan topik, dalam kasus ini mengenal teman yang sama, yang akan dibicarakan adalah teman itu. Mari kita sebut mantan kecengan saya sebagai Robi.

Saya : “Lo kenal dia di mana?”
Agni : “Gue sekelas sih sama dia pas SMA”
Saya : “Ohya? Dia kayak gimana pas SMA?” –> mulai penasaran nih yee
Agni : “Anaknya baik sih Ras. Kalian sedekat apa sih emangnya?”
Saya : “Sedekat apa? Hmm, nggak tahu. Pokoknya dia baik banget sama gue”
Agni : “Soalnya kalau nggak salah dia udah punya pacar. Emangnya udah putus?”

Jeeennnggg!!! Jaman itu masih jaman friendster. Hari itu saya langsung mengecek status Robi. Single. *tapi saya mulai ragu sama penglihatan saya waktu itu deh, jangan-jangan saking sukanya saya ke dia, sampai-sampai berharap status dia yang saya lihat itu tulisannya Single. Sialan*

Tahun pertama kuliah, saya memiliki tiga sahabat dekat. Ilona, Maria dan Adel. Urusan percintaan bukan sesuatu yang mudah luput dari pengawasan mereka. Muram sedikit mereka akan mencecar dengan berbagai pertanyaan.

Apa yang mereka ucapkan siang itu, di tangga TPB Seni Rupa, tertanam di benak saya sampai hari ini, “Kalau Robi memilih meninggalkan pacarnya demi kamu, ada kemungkinan suatu saat kamu bakal dia tinggalkan demi perempuan lain, Ras. Jangan bodoh!”

Beberapa minggu kemudian SMS saya adalah menembak dia di tempat dengan pertanyaan, “Kamu sudah punya pacar ya?”

Dan jawaban dia saat itu menghancurkan harapan saya *duileeehhh*, “Iya”

SMS saya selanjutnya masih saya ingat jelas, “Kalau kamu sudah punya pacar, jangan berbaik-baik sama aku. Aku tidak mau jadi perusak hubungan orang. Maaf”

Dan saya masih ingat, setelah saya SMS, Robi langsung menelepon. Dia tanya, “Kamu kecewa?”

Apa yang bisa saya katakan selain, “Tidak” –> harga diri saya sangat tinggi, nggak mau dia tahu kalau saya jatuh hati padanya dan berharap.

Entah dia tahu atau tidak tapi sebenarnya saat mengatakan tidak, saya sekuat tenaga menahan tangis yang mudah sekali pecah, sampai berkali-kali harus menarik napas. Tapi saat itu saya mendengarnya berkali-kali minta maaf.

Sejak saat itu, tidak ada lagi masa-masa pulang kuliah bersama. Tidak ada lagi SMS penyemangat. Tidak ada lagi ceritanya tentang kehidupan rumah kontrakannya. Saya menyesal kehilangan seorang teman dekat. Dan itu karena saya sendiri.

Tahun-tahun berikutnya yang saya sadari, dia datang pada saya ketika putus dengan pacar-pacarnya. Tapi setiap kali dia menemukan tambatan hati baru, dia tidak pernah cerita pada saya. Dan rasanya kami tidak pernah berjodoh, karena setiap kali saya tidak punya pacar, dia sedang bersama seseorang. Setiap kali dia putus, giliran saya yang sedang mengamit tangan seseorang.

Namun bagaimanapun, saya selalu bisa menemukan cara menghubungi dia. Bagaimanapun, kemanapun saya pergi, ada saja teman saya yang adalah temannya.

Saya penasaran, apakah dulu dia juga jatuh hati pada saya? Tapi apalah manfaatnya, saya sudah melabuhkan perahu saya pada tonggak kecil di pinggir pantai. Saya hampir pasti sudah menemukan pantai milik pulau yang indah, yang tidak ingin saya tinggalkan. Robi hanyalah pulau di seberang sana yang masih bisa saya lihat, tapi jelas saya tidak ingin membawa perahu saya berlayar padanya.

Kata-kata yang pernah saya ucapkan pada pacar saya adalah janji, semoga saya tidak mengingkarinya. Bahwa, ketika Robi menyematkan cincin dan berikrar sehidup semati dengan seorang wanita, maka akan lebih mudah bagi saya untuk bebas.

image

-Saya rindu pada seseorang di Karang Sambung sana-

Posted from WordPress for Android

Getting Married is…

29 Mei 2013 Altamis Matahari Nawira was born. Welcome to the world!!

Saking excitednya sejak semalam, saya browsing-browsing hadiah apa yang bakal saya bawakan buat Alta pas datang menengok siang nanti. Teringat dulu waktu nengok Sky *anaknya Ilona* cuma bisa ngebeliin botol buat nakar susu bubuk buat kalau harus bikin susu di jalan *Sky yang ganteng, kapan-kapan kubelikan kado yang lebih bagus yaa*
Saya anti pacifier. Mungkin karena saya sendiri nggak pernah merasakan dot dari lahir, begitu juga adik saya. Ibu saya menghindari dot juga.
Terima kasih mama, gigi saya dan adik jadi rapi. Hehehehe.

Well, tahun ini banyak peristiwa penting yang terjadi. Pernikahan dan kelahiran adalah salah duanya.

Empat bulan lagi, sahabat saya sekaligus partner in crime dalam dunia perinterioran, akan menikah. Memang sih dia yang punya hajat, tapi saya juga merasa excited.

Bukan karena saya pengen buru-buru menikah juga, tapi lebih karena seru saja ikut merasakan repotnya menyiapkan pernikahan.
Iya sih, saya tidak terlibat banyak dalam hajatan ini, cuma panitia. Kapan lagi saya bisa jadi panitia pernikahan?! Hehehehe.
Saudara kandung saya cuma satu, itu pun beda 6 tahun di bawah saya. Masa iya sebelum saya menikah, dia bakal menikah duluan. Rasanya hampir tidak mungkin karena Ibu Bapak saya pasti menentang.Sepupu-sepupu dekat saya juga tampaknya belum akan menikah. Jadi anggaplah menjadi panitia unyu di pernikahan sahabat saya ini semacam pembekalan juga buat saya.

Pasti habis membaca tulisan ini, ada beberapa orang yang *lagi-lagi* bertanya, “Kapan kamu menikah, Ras?”

Saya tidak pernah merasa takut dengan pertanyaan ini, malah cenderung biasa saja. Karena menikah bukan target, bukan sesuatu yang mudah dilakukan.
Bukan dalam artian materi yang menghalangi *yah itu salah satu faktor tapi saya dan pacar, Inshaallah, bisa mengatasi, dan itu bukan halangan*, tetapi lebih kepada memantapkan komitmen.

Banyak hal yang akan dikorbankan ketika menikah sudah menjadi fokus. Dan hal-hal berkaitan target serta passion hidup saya juga akan kandas kalau saya memikirkan pernikahan sekarang. Saya masih mau membesarkan Interior Design Studio yang sedang saya dan sahabat saya rintis, masih mau menyelesaikan Tesis tahun ini, masih mau mengambil doktor *Inshaallah* tahun 2015, masih mau merintis lagi bisnis fashion dengan sahabat baik saya, dan yang jelas saya masih mau menjadi berguna buat orang lain dulu. Lagipula Ibu dan Bapak saya juga menikah pada usia 28 tahun. Jadi rasanya sudah tertanam dalam diri saya untuk tidak menikah di bawah usia 25 tahun.

Sudah cukup asam garam kehidupan teman-teman saya mengajarkan kepada saya. Bagaimana banyak hal tidak bisa dikerjakan oleh seorang wanita setelah menikah.

Belum lagi mempunyai anak. Saya tidak anti anak kecil. Saya malah cenderung suka mengasuh, suka mendengarkan cerita-cerita dari mulut seorang anak kecil, suka dengan tingkah mereka saat mereka gembira. Tapi ada satu dialog kecil, saya lupa siapa partner bicara saya waktu itu, yang membuat saya berpikir seribu kali.

Suatu hari saya sedang melihat-lihat foto bayi dan balita :

Saya : Anaknya lucu bangeeeettttt!!! Pipinya itu looohhh, senyumnyaaaaa… *gitu deh kira-kira*

Seseorang : Dia kelihatan lucu soalnya kamu belum hidup sama dia, Ras.

Seseorang itu tidak bercanda. Dia benar. Dan bukannya saya jadi takut untuk punya anak. Siapa sih yang tidak mau punya miniatur dari dirinya sendiri.

Saya sudah beberapa kali terlibat dalam kegiatan yang berbau mengasuh anak kecil. Hell yes, awalnya mereka memang manis. Tapi cukup satu minggu menghabiskan hampir 3/4 hari per harinya bersama mereka, bahkan sampai menginap juga, saya sudah kenyang. Saya tipikal orang yang belajar dari pengalaman dan bukan dari omongan semata. Kalau saya cuma mendengar seseorang pada dialog di atas mencetuskan kalimatnya saja mungkin saya tidak akan menganggap serius kata-katanya itu. Setelah mengalami sendiri apa yang dinamakan hidup dengan anak kecil, saya merasa saya belum sanggup. Lagi-lagi bukan soal materi. Tapi lebih kepada, ketika saya memiliki anak kelak, sikapnya, sifatnya, nilai yang dia anut adalah tanggung jawab saya dan pasangan. Jadi anak kami kami kelak adalah bentukan dari tangan kami.

Sungguh saya belum sanggup. Itu masih terlalu berat. Belum lagi pacar saya sempat trauma karena beberapa bulan yang lalu dia juga terlibat kegiatan serupa yang saya ikuti yang menuntut untuk mengasuh anak kecil, anak-anak yang dia asuh kebetulan sangat istimewa. Penggambaran yang pacar saya utarakan adalah “Anak-anaknya super nuakaaaalllll!” Saya cuma bisa tertawa, ternyata kami memang belum sanggup.

Teman-teman saya banyak yang bilang, “Yaahh, punya anak bisa diatur Ras, bisa ditunda, jadi setelah menikah nggak perlu langsung punya anak.”

Saya mengenal diri saya dengan cukup baik. Saya tidak lepas dari kemalasan. Dan kemalasan itu pun sering berubah menjadi kecerobohan. Jadi tidak ada yang bisa menjamin setelah menikah saya tidak akan langsung punya anak atau malah langsung. Kenapa? Ya karena untuk menunda punya anak setelah menikah itu butuh ketelatenan, harus mengikuti saran dokter dan lain-lain.

Tulisan ini adalah buah pikir saya. Tidak akan saya jadikan prejudice bahwa menikah muda itu tidak baik. Menikah itu adalah pilihan. Bukan sesuatu yang prinsipnya bisa dipaksakan.

*saya membayangkan, kelak ketika undangan pernikahan saya tersebar, teman-teman saya akan berkata, “Akhirnyaaaaa…” hahahaha*

image

Sumber : dok. Pribadi

*anak di foto ini adalah anak senior saya di kampus, namanya Nada. Lucu yaaaa, tapi pembaca belum menghabiskan satu hari berada di dekat dia hahahaha*

Posted from WordPress for Android

KakMalmut Story

Image

sumber : dok.pribadi

Setahun ke belakang, saya bersama dua senior saya bermarkas di TPB (Tahap Persiapan Bersama) FSRD ITB. Tugas kami ya membantu dosen-dosen di sini dalam mendidik adik-adik di tahun pertama FSRD ITB sebelum masuk ke jurusan masing-masing. Selain kami bertiga sebagai dosen asisten, ada delapan orang asisten mahasiswa yang membantu kami menjalankan tugas di lapangan *terang saja kami membutuhkan mereka, FYI mahasiswa/i FSRD ITB 2012 hampir berjumlah 250 orang!*

Setiap hari Rabu, kami semua bertemu di mata kuliah Gambar Konstruktif. Mau tahu seperti apa kuliahnya? Silakan tanyakan mahasiswanya. Hahaha…

Setahun ini kami menghabiskan tiap hari Rabu dalam keceriaan, dukanya hampir tidak ada malah rasanya. Lucu sekali mengingat tingkah laku asisten mahasiswa tahun ini. Masih tergambar jelas dalam ingatan saya, hari pertama mereka bertugas, mereka berinisiatif membuat peraturan baik bagi mereka maupun bagi mahasiswa, mulai dari presensi sampai tata cara pengajaran. Dan saya salut, mereka berkomitmen pada diri mereka sendiri, sampai akhir tahun ajaran! Hal ini mereka lakukan tanpa perintah dari kami sebagai dosen asisten maupun dari dosen pengampu utama. Bayarannya? Yang saya tahu hanya makan siang setiap hari Rabu itu saja. *angkat topi*

Dari sini pulalah sebutan KakMalmut untuk saya berasal. Yang pertama memanggil saya dengan panggilan itu adalah cewek mungil bermata besar bernama Jakiyah! Habis dari sana semua asisten mahasiswa memanggil saya dengan sebutan itu. Huuuuffttt *pake T*

Alasannya, wajah saya kalau dilihat secara seksama seperti Marmut. Huweeeee!!!!

Blog ini saya namakan KakMalmut, karena salah satunya ingin saya dedikasikan pada mereka. Ingin saya ceritakan apa yang saya rasakan terutama ketika saya bercerita tentang pendidikan. *jadi KakMalmut bukan singkatan dari Kakak Mutiara Ayu Larasati Imut seperti yang diperkirakan adik saya, walaupun itu bisa juga sih hahahahaha*

Tahukah kalian? Mereka mendidik adik-adiknya, saya rasa dengan kasih sayang. Jangan tanya saya bagaimana saya tahu. Pembaca harus merasakan sendiri berada di tengah mereka, berada dekat dengan mereka, mendengar kesehariannya, dan melihat bagaimana mereka memperlakukan adik-adiknya.

Terima kasih ya, Kiki yang mungil sekali sampai suka nggak kelihatan kalau lagi keliling di TPB, Dika yang cantik luar biasa sampai kalau lagi ngucapin salam sambil ngibasin rambut bisa menghempas satu kelas, Mifta yang sudah menegakkan aturan di TPB sambil tebar-tebar pesona, Gunadi yang mau menikah tahun 2015 *aminnn*, Azhar yang kemanapun pergi selalu dibuntutin si cantik Dika *salam ya buat Azka*, Surya yang kalau udah ngomongin game nggak ada habisnyaaa, AL yang cengengesaaannn muluuuu, dan terakhir buat Ardhy yang dengan sampelopinionnya membuat saya betah membaca kisahnya berjam-jam *semoga segera bertemu calon istri! amiiinn*

Pernyataan Mahasiswa

sumber : dok.pribadi

sumber : dok.pribadi

 

Baru-baru ini ada mahasiswa yang “nyatain” ke saya di dalam kelas di tengah ujian.

Lucu sebenarnya, karena sedang ujian, dan dia “nyatain” dengan suara lantang, jadi kelas sempat hening dan perlahan-lahan terdengar komentar dari peserta ujian,
“Adeeeuhhhhh!”. Saya nggak tahu harus ngapain, karena geli sendiri.

Jadi ceritanya saya sempat menjadi dosen asisten di mata kuliah dimana mahasiswa isi kelas mata kuliah tersebut memang istimewa *bukan chibi-chibi ya*. Anak-anaknya
dicap luar biasa malas dan nakal. Saya tidak tahu apa-apa tentang menangani kasus yang seperti ini. Tapi saya jalani saja, karena diminta ikut menangani kelas ini.

Perlahan-lahan yang saya tahu, masing-masing dari mereka punya latar belakang yang berbeda sehingga terdampar ke kelas itu. Latar belakang yang dalam artian, mereka
malas bukan karena pada dasarnya mereka tidak suka kuliah itu. Mereka merasa rendah diri tapi mereka tidak sadar. Saya tidak menganggap mereka bodoh.Saya anggap saja
mereka sebagai adik. FYI, saya punya seorang adik yang baru masuk kuliah tahun 2012 lalu, tapi dia jauh di depok sana dan jadi jarang bertemu *kenapa jadi curhat?*

Rata-rata mereka beralasan, takut dan malu bertemu teman-teman di jurusan kami. Tapi saya juga melihat pola, mereka tidak tertarik untuk datang kuliah karena tidak ada
motivasi juga. Ini sih masalah pengendalian diri. Tidak saya pungkiri, saya juga dulu sering merasa tidak tertarik untuk datang kuliah, tapi saya tetap datang. Banyak
alasan yang saya buat sendiri, supaya bisa menyuruh diri saya sendiri untuk datang kuliah dan bukan sebaliknya.

Nah, semua itu ternyata berasal dari sendiri. Dan ketika saya harus jadi dosen asisten di mata kuliah yang pesertanya veteran semua itu, saya tahu ini bukan tempat
dimana saya harus memaksa mereka untuk datang. Karena mereka pasti tidak akan datang. Turuti saja apa kata mereka dan buat kesepakatan. Misalnya, si D tidak mau datang
ke kelas karena takut bertemu dosen utama. Maka saya beri dia solusi, dia boleh asistensi di luar kelas tapi dia harus rutin menyerahkan pekerjaannya pada saya, untuk
kemudian saya sampaikan pada dosen utama. Kesepakatan ini juga saya beritahukan pada dosen utama, dan beliau setuju.

Yah, walaupun hasilnya belum maksimal, tapi hasil kerja si D ini jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dia pun jadi rajin ke kampus dan ramah menyapa saya, bahkan saya
kadang diajak curhat. Bagi saya itu kemajuan untuk dia. Walaupun lulusnya pun hanya dengan nilai yang minimal. Rasanya apalah arti nilai dibandingkan dengan kemajuan
dari kepribadian adik-adik mahasiswa di kelas istimewa itu.

Nah kembali ke mahasiswa yang “nyatain” ke saya. Saya kenal dia sebagai anak yang suka nawar. Hahahaha. Habis lulus dari kelas tempat saya jadi dosen asisten, dia
tidak lulus di kelas berikutnya. Masih bersama teman-temannya yang istimewa.

Makanya berangkat dari masalah itu, dengan tersenyum-senyum dia bilang sama saya, “Kak, saya nggak lulus lagi mata kuliah itu”.

Saya : Kok bisa? *sambil membagikan soal ujian*
Dia : Iya Kak, soalnya saya nggak ada progress
Saya : Kenapa bisa gitu? *sambil berjalan menjauh dari mejanya*
Dia : *cengengesan* Semester depan asistennya kakak yah
Saya : Bilang gih sama kaprodi *sambil bercanda sebenernya, berdiri dekat meja dosen sambil merapikan sisa soal*
Dia : *dari tempatnya duduk di ujung ruangan, teriak lantang* Pokoknya saya maunya sama Kakaaakkk!

*Hening. Hening. Beberapa ketawa sambil berkata, “Adeeeuhhhh!”*
*Untung dia nggak menyatakan cinta. Bisa gempar dunia persilatan. Lagipula dia sudah punya pacar, dan pacarnya itu adalah murid saya di bimbingan gambar dulu, lucu
banget pasangan ituuuu!! hahahahaha

Saya Mau Sehat

Baru beres makan lotek dan minum kopi.

Itu sarapan saya kedua kalinya hari ini. Hahahahaha. Sarapan pertama adalah nasi pakai taburan abon tongkol pedas dan telur dadar ceplok (telurnya dua butir, satu didadar dan selagi masih basah di wajan, telur yang lain dituangkan ke atasnya), dahsyat kan??

Pantesan saya semakin hari semakin sulit bangun pagi sekali, bangun pasti sudah jam 5 atau setengah 6 pagi. Padahal target saya bangun jam 3 supaya bisa mengerjakan tesis
sedini mungkin. Heuheu. Ini semua pasti gara-gara pola makan belakangan seperti ini, kolesterol pasti bertambah dan saya pasti semakin gampang ngantuk. Bahkan pas hari
Senin harus ikut menyidang anak s1, saya dalam keadaan ngantuk berat padahal sudah tidur jam 10 malam dan bangun jam 5 pagi. Mau jadi apa sayaaaaa??? Tidak heran
ini paha semakin melebar juga  :))

Saya akui, pola hidup sehat itu berat, berat memulainya! Hahahaha. Saya sudah sempat menyusun jadwal untuk olahraga ringan, sudah menyusun pola makan dengan mengurangi
MSG dan porsi telur (FYI saya makan minimal 2butir telur setiap hari, karena nggak punya asupan protein yang lain). Tapi susaaaaahhh banget mulai melaksanakannya!

Saya suka banget telur. Berpisah dengannya seperti berpisah dengan pacar. Yang pernah putus pasti tau deh rasanya. Tapi kalau masalah putus sama orang, saya sebenarnya
cepat sekali move on. Tapi kalau dengan telur, saya tidak sanggup berpisah dengan rasa lucu dari kuning telurnya. Huhuhuhu.

Untuk olahraga, saya sudah memulai dengan menyediakan 15menit setiap hari setiap bangun tidur untuk lari pagi dan senam-senam kecil. Kenapa 15menit? Rasanya untuk pembosan seperti saya, menyediakan waktu 15menit selama lima hari berturut-turut itu sudah rekor. Apalagi tidak ada yang mengingatkan.

Ngomong-ngomong, kemarin-kemarin saya sempat minta dibelikan sepatu lari yang murah, cuma 30 ribu rupiah kepada pacar *karena tahu dia sudah gajian, hahaha*. Baru kali
ini saya minta dibelikan barang *secara serius, kalau sedang bercanda saya minta dibelikan mobil*, biasanya minta dibelikan eskrim atau makanan. Hahahaha.

Tapi komentar dia, “Ada sepatu yang bagusan dikit nggak? Nanti sakit kaki loh kalau pakai sepatu kayak gitu…”

Tadinya kan saya mempropose sepatu yang murah itu biar langsung dibelikan. Apa saya propose sepatu merk favorit saya yang sudah saya idam-idamkan sejak lama yang harganya sepuluh kali lipat saja ya? Siapa tahu langsung dibelikan sama pacar *ngarep*

– Di televisi tahu-tahu membahas tentang stroke akibat pola makan dan stress. Pffftttt…. –

Gusar.

Soekarno hatta jam segini macet. Nggak biasanya. Ini kan hari rabu. Ternyata ada polisi bertugas pakai egrang! *serius!

Saya lagi gusar. Di satu sisi memikirkan tesis yang masih berupa data mentah, belum dipilih pilah, belum diklasifikasikan, apalagi diolah. Huft. Rasanya mau ketemu pembimbing aja minta semua diselesaikan bulan ini. *ngarep

Di sisi lain saya memikirkan banyak hal yang fisiknya sih tidak ada hubungannya dengan saya. Tapi tetap saja mengganggu sekali. Jadilah saya gusar memikirkan hal-hal yang tidak penting.

Perhatian: tulisan ini untuk usia 18tahun ke atas.

Gusar satu. Kemarin saya pergi kencan ke j.co. Di sana dipisahkan antara area merokok dan tidak merokok. Karena saya dan pacar tidak (sedang) merokok, kami pilih untuk duduk di kursi pojokan non-smoking area yang letaknya di dalam dekat kaca pembatas dengan smoking area. Saat mulai duduk itulah kegusaran saya (dan pacar) muncul. Di balik pembatas kaca yang transparan itu, tepat di sebelah kami, duduk sepasang muda-mudi yang jika dilihat penampilannya, usianya tidak lebih tua dari saya. Paling tua usia 20. Mereka duduk bersebelahan, dengan kaki si mudi diletakkan di atas paha si muda yang dengan santai membelai2 kaki ramping itu. Sirik? Tidak. Saya dan pacar juga bisa. Tapi saya tidak mau.  Pacar saya juga tidak mau. Kami tidak menjauh demi melihat adegan muda-mudi itu. Mereka juga tampaknya tidak sadar sedang kami bicarakan. Adegan pun berlanjut, sampai ke sandaran dan pelukan  serta mungkin ciuman *saya tidak melihat dengan jelas karena sedang mengobrol sama pacar* yang saya nilai bukan rasa sayang dan hormat. Sampai pada puncaknya berupa pangkuan dan mungkin ciuman lagi. Pfftt.
Dan pacar saya bertanya,”Bisa kamu bayangkan mereka sudah ngelakuin apa aja?”
Saya cuma bisa merinding tapi tertawa.
Dan saya bertanya pada pacar saya,”Kalau kita lagi jalan di tempat umum, orang menilai kita sebagai pasangan seperti apa ya?”
Dan dia tersenyum.
Gusar satu yang memberi pelajaran bagi kami berdua. Dan saya tiba-tiba mengkhawatirkan adik saya, yang usianya mungkin sama dengan si mudi tadi.

Gusar dua. Saya belum bisa memutuskan definisi sukses bagi saya. Tidak dipungkiri setiap kali mengucapkan selamat ulang tahun, banyak yang mengiminginya dengan ucapan semoga sukses. Rasa-rasanya setiap kali berbicara tentang sukses di banyak kelompok yang saya ikuti, saya hanya mendapat gambaran tentang perusahaan yang besar, cabang perusahaan dimana-mana, kuliah di luar negeri, bekerja di luar negeri, sampai ke resepsi pernikahan yang megah. Sungguh, saya bosan mendengar cerita kesuksesan versi itu. Saya tidak melihat manfaatnya bagi orang-orang yang tidak punya kepentingan dengan yang bersangkutan. Dan herannya, banyak orang menceritakan kesuksesan orang lain dalam versi itu *yang dia pikir ada hubungan entah kerabat atau cuma satu almamater* dengan bangga yang berlebihan, yang dalam artian menjelek-jelekkan yang di luar itu. Misalnya saja memuji seseorang yang bekerja di luar negeri dan mengatakan bahwa di negeri ini seseorang itu tidak akan sesukses sekarang. Disini saya tidak ingin menyebar prejudice bahwa sukses yang seperti itu buruk, tapi saya ingin mempersuasi yang membaca tulisan ini untuk memberikan penghargaan sekecil apapun pekerjaan baik yang dilakukan orang lain. Menjaga kata-kata dalam menyampaikan pujian.

Berat ya kegusaran saya, sampai saya sakit kepala padahal harus menilai tugas mahasiswa. Hahaha.

Yah, semoga saja bisa bermanfaat, coret-coret saya di blog ini.

-memandang ruang rapat yang kosong-

Bertualang Bersama Roda Empat

Habis keramas, biar besok keliatan cantik di depan angkatan 2011 sama TPB 2012 *naoonnn*

 

Saya kalau nyetir suka sambil ngelamun. Bukan dalam artian saya nggak merhatiin samping kiri kanan depan belakang sampai nabrak-nabrak. Tapi dalam artian, suka nggak mikirin mau ambil jalan yang mana. Kalau hipotesa dari temen saya yang sama-sama suka ngelamun pas nyetir, itu mungkin karena kita udah tau kondisi jalan yang bakal kita lewatin, dan kita udah tau jalan mana yang bisa kita ambil buat menuju suatu tempat.
Hmm, bisa jadi sih. Tapi saya bawa mobil belum ada dua tahun. Mungkin kebanyakan main keliling Kota Bandung.

Pernah baru-baru ini pas pacar diwisuda, saya ke kampus bawa mobil sendiri. Kebiasaan lain saya pas lagi nyetir adalah menyetel lagu-lagu Korea favorit saya sambil nyanyi sepanjang jalan. Maksudnya biar nggak sempat maki-maki orang di jalan. Hehehehe. Nah, kebiasaan lainnya, dari rumah atau dari tempat asal, saya pasti mikirin jalan menuju ke tempat tujuan dan melihat waktunya. Sampai hapal jam-jam jalan ini itu macet. Misalnya, jam 6 kurang seperempat pagi berangkat dari rumah, Bypass pasti kosong, tapi kalau jam 7 baru berangkat, pasti macet buanget dan harus ambil jalur lambat yang walaupun jalur itu padat tapi tetep merayap dibandingin jalur cepat yang macet total. Semacam itulah.

Nah, waktu wisudaan pacar, saya sebenernya berencana ambil jalan ke Buah Batu dibanding ke Kiaracondong. Gara-gara kebiasaan ngelamun, saya malah ambil lajur paling kanan di jalur cepat yang notabene kalo ngantri di sana berarti harus ambil jalan ke Kiaracondong. Baru sadar sesudah sampai perempatan. Bener-bener saat itu saya ngerasa bego banget, dan malah ketawa sendiri di dalem mobil. Mana di sebelah ada mobil patroli pula, hampir pasti dikira gila kali ya. Yasudah takapa.
Akhirnya masalah yang saya ciptakan bisa diatasi dengan ngambil jalan ke Asia Afrika-Braga-Viaduct-Balaikota-BEC-Dago. Dan sampailah dengan selamat masuk kampus, terus dapet parkir di Matematika. Pfffttt… *muternya jauh juga ternyata saya hari itu*

Kelemahan saya saat bawa mobil adalah parkir! Jadi kalau kalian menemukan Nissan March putih yang pakai stiker eyeshadow *buatan papa* warna ijo lagi parkir *biasanya sekitaran Dago lah, lebih spesifik di parkiran ITB* dan parkirnya bener, dalam artian lurus, nggak melewati garis dan cantik, kemungkinannya cuma dua. Kebetulan hari itu saya lagi beruntung karena parkiran sebelumnya kosong jadi bisa bolak balik maju mundur sampe bisa parkir lurus, atau yang markirin si March putih cantik bernama Suzy Miss-A itu adalah pacar saya yang jago banget bawa mobilnya sampe bikin SIM aja lulus tanpa lewat jalur nembak-nembakan itulah. Hahahaha…

I Love You, Epoooo…! *teu nyambung*

 

-sambil nungguin wangsit buat nulis Tesis bab sekian-